Thursday, 24 August 2017

Jatuh Cinta Diatas Umur 25 Tahun

"Karena Untuk Bersama, Tidak Hanya Soal Rasa
Tetapi Makna"


Jatuh cinta diumur 25 tahun ke atas itu udah nggak lagi segampang balikin telapak tangan, apalagi balikin mantan pada tempatnya 😂

kalau mau memilih juga nggak bisa asal tunjuk ataupun asal nyomot, nggak bisa nilai cuma karna dia baik atau tajir apalagi kalau nilai dia kaya bang Hamish Daud 😍

Pengen punya pasangan yang blaaaa bliiii bluuuu itu akan buyar sama satu orang yang bertahan karna adanya seseorang yang rela selalu ada disamping kamu sekarang. Nerimain nakalnya kamu, nerimain joroknya kamu, nerimain semua kekurangannya kamu dan diisi dengan kelebihannya si dia.

Dan yang penting adalah komunikasi, bukan hanya sekedar berkabar : "aku lagi disini, sama temen aku namanya idoy melehoy" 😅

Atau komunikasi yang lain,
Jauh dari itu saling sharing masalah hubungan kedua dan pribadi itu penting.
Suatu saat nanti kamu akan satu rumah selamanya dan menghabiskan waktu berdua hanya untuk cerita hal-hal yang nggak penting.

Dari hal yang nggak penting mendadak jadi penting banget kalau lagi nggak ada topik, iya nggak sih?" Yang jomblo mah belum bisa kasih jawaban 😑

Yang suka iseng nanya padahal tanpa dijawabpun pasti tau banget jawabannya, kayak "kamu sayang sama aku nggak?" atau sayang sama rumput tetangga sebelah?" 😂

Hahahaha.. Pertanyaan klasik, simple tapi jawaban dari pasangan masing-masing tuh bakal bikin greget sendiri kan?" 😣

Atau pertanyaan "aku cantik nggak?" Aku putihan nggak?" Aku langsingan nggak?" Jawaban "Enggak" mungkin cuma dijawab sama pasangan kalian doang Wkwkwkwk
soalnya kalian cuma nannya sama dia doang 😂

Tapi jawaban yang seperti itu biasanya lebih menyenangkan, kecuali kalian cara berhubungannya serius, giliran dijawab "Enggak" langsung ngambek, giliran di bilang kayak Raisa malah ngerasa di hina 😭

Ketika kamu jatuh cinta pertanyaan simple, seperti itu kamu pasti sudah tahu jawabannya. Kecuali jika kamu ditanya "kamu kapan nikahin aku?" 😑 jangan harap kamu dapet jawaban secepat kilat. dan jangan juga kamu tanya si dia pas posisi lagi capek, yang ada kalian berantem besar 🙊

tapi kalau kalian yakin bahwa, pernikahan adalah tujuan bersama, apalagi jika kedua keluarga kecil sudah perlahan menjadi satu keluarga besar akan luar biasa. Mungkin menurut saya pribadi, yang enak diajak ngbrol dan cerita itu jauh lebih nyaman dan menyenangkan.

Maka jatuh cinta lah kamu dengan pasangan yang menurutmu nyaman dan menghargaimu.
Bentuk cinta kalian se unik mungkin, senyaman mungkin, dan dengan gaya kalian masing-masing sampai ada kata-kata diluar sana yang mengatakan "duh pengen deh kaya mereka"! 😋

Selamat jatuh cinta, selamat berjuang demi si dia yang rela menerimamu dalam kondisi apapun, untuk berjuang bersama, maju bersama dan bahagia bersama, karena untuk bersama tidak hanya soal rasa tapi makna kebersamaan dan perjuangannya.

Oke! 😉

Monday, 19 June 2017

Indahnya Panorama Ramadhan Di Lombok Barat

Menikmati Seni Tenun Sambil Menunggu Magrib Tiba, Tradisi Suku Sasak Lombok, Tenun Songket
Kebudayaan Masyarakat Lombok 

(Ina, Pengrajin Tenun Songket Desa Sade Rambitan)

Kali ini Alhamdulillah dapat menikmati nuansa Ramadhan di Lombok, Desa Sade tepatnya. Yang dimana masyarakat setempat mayoritas menganut agama Islam, yaitu dengan sistem 'wetu telu' yang artinya dalam masyarakat Lombok yang awam itu sebagai akulturasi dari ajaran Islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme, dinamisme, dan kerpercayaan Hindu.

Penganut kepercayaan 'wetu telu' tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya yang dikenal dengan sebutan 'wetu lima' karena menjalankan kewajiban salat lima waktu. Dan yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat setempat. Nah, sedikit informasi mengenai kepercayaan yang dianut oleh masyarakat suku sasak. Disisi lain saya menggali informasi mengenai aktifitas sehari-hari para wanita yang berada disekitar lokasi, dan saya melihat disetiap sudut halaman rumah terdapat alat tenun beserta hasil kain tenunan yang berwarna-warni indahnya. Dan tidak salah itu adalah kerajinan seni suku sasak yang nantinya dapat dijadikan pakaian adat mereka, saya tidak sabar untuk mencoba mendekati salah satu penenun masyarakat sade yang sedang membuat kain songket.

Ina' baiq (ibu beranak tiga). Adalah salah satu pengrajin kain tenun songket khas suku sasak di Desa Sade, Rambitan Lombok Tengah.
Beliau menenun mulai dari berumur 13 tahun hingga saat ini, salah satu aktifitas beliau sambil menunggu sore hari.
(Belajar Tenun, Desa Sade Rambitan)

Oh iya, di Lombok Tengah terdapat sentra industri kain songket yang lumayan sudah terkenal di
Sukarara Village. Termasuk salah satu sentra penghasil songket terbesar di Lombok, info dari beliau, sentra disana sudah menjadi bagian dari komoditi hingga merambah pasaran luar negeri. Wah, keren ya.

Dan tenun songket itu sendiri merupakan kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan yaitu berupa hiasan-hiasan dari benang sintetis berwarna emas, perak, dan warna lainnya.
(Belajar Tenun, Desa Sade Rambitan)

Hiasan itu disisipkan di antara benang lusi, terkadang hiasan dapat berupa manik-manik, kerang, maupun uang logam. Untuk kain songket sensiri dipakai sebagai bagian dari pakaian tradisional suku sasak yang bernama baju lambung atau dikenal dengan baju wanita.
(Hasil Songket, Desa Sade)

Untuk penyelesaian tenun menjadi kain dapat memakan waktu yang berbeda-beda ujarnya, bisa jadi satu bulan bahkan lebih, tergantung tingkat kesulitan manik atau model songket yang akan di buat.
(Desa Sade, Suku Sasak Lombok)

Uniknya, menenun kain merupakan aktivitas sehari-hari perempuan suku sasak di lombok, apalagi saat Ramadhan ini dapat dijadikan alasan oleh masyakarat untuk ngabuburit, alias menunggu saat magrib tiba. Aktivitas itu juga menjadi syarat yang wajib dipenuhi untuk dapat menikah menurut tradisi budaya mereka loh.
(Salah Satu Pengrajin Tenun Songket Rumahan)

"Kalau perempuan di sini belum bisa menenun, mereka belum siap menikah karena harus bikin tiga sarung. Satu untuk diri sendiri, untuk suami dan mertua perempuan. Belajarnya sejak umur 10 tahun, mulai dari kain polos dulu" ujarnya.
(Papu Balo, Penjual Sovenir Di Desa Sade)

Ohiya, selain sibuk membuat tenun kain songket masyarakat suku sasak di Desa Sade ini pun mayoritas pembuat sovenir juga, dan itu dapat dijadikan alternatif untuk menarik wisatawan lokal maupun asing sebagai oleh-oleh cendramata yang dapat dibawa. Hehe

Salah satunya Papu Balo' ini. Papu Balo yang artinya sebutan untuk kerabat suami istri garis keturunan atas suku sasak. Yaitu kakek atau nenek hingga keturunan yang paling tua, beliau bisa dibilang Nenek paruh baya dengan seorang cucunya sedang menunggu para wisatawan membeli sovenirnya dipalataran rumah beliau.
-
Short Story, Lombok NTB
Sucie Sbastian
Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba blog #RamadhanDiLombok2017 yang diselenggarakan REPUBLIKA dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat

Monday, 22 May 2017

Wisata Budaya Lombok, Nusa Tenggara Barat (Travelling/Backpacker)

Tradisi Suku Sasak Lombok, Tenun Songket
Kebudayaan Masyarakat Lombok

(Ina, Pengrajin Tenun Songket Sukarara)

Ina' baiq (ibu beranak tiga). Adalah salah satu pengrajin kain tenun songket khas suku sasak di Lombok. Tepatnya di Industri Kerajinan Patuh Sukarara Village, Lombok Tengah.
Beliau menenun mulai dari berumur 13 tahun hingga saat ini, dan salah satu pengrajin tenun songket di Sukarara Village.
(Belajar Tenun, Sukarara Village)

Sukarara Village sendiri adalah sentra penghasil songket terbesar di Lombok. Info dari beliau, sentra disini sudah menjadi bagian dari komoditi hingga merambah pasaran luar negeri, dan tenun songket merupakan kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan yaitu berupa hiasan-hiasan dari benang sintetis berwarna emas, perak, dan warna lainnya.
(Belajar Tenun, Sukarara Village)


Hiasan itu disisipkan di antara benang lusi, terkadang hiasan dapat berupa manik-manik, kerang, maupun uang logam. Untuk kain songket sensiri dipakai sebagai bagian dari pakaian tradisional suku sasak yang bernama baju lambung atau dikenal dengan baju wanita.
(Hasil Songket, Desa Sade)

Untuk penyelesaian tenun menjadi kain dapat memakan waktu yang berbeda-beda ujarnya, bisa jadi satu bulan bahkan lebih, tergantung tingkat kesulitan manik atau model songket yang akan di buat.
(Desa Sade, Suku Sasak Lombok)

Uniknya, menenun kain merupakan aktivitas sehari-hari perempuan suku sasak di lombok. Aktivitas itu juga menjadi syarat yang wajib dipenuhi untuk dapat menikah.
(Salah Satu Pengrajin Tenun Songket Rumahan)

"Kalau perempuan di sini belum bisa menenun, mereka belum siap menikah karena harus bikin tiga sarung. Satu untuk diri sendiri, untuk suami dan mertua perempuan. Belajarnya sejak umur 10 tahun, mulai dari kain polos dulu" ujarnya.
(Papu Balo, Penjual Sovenir Di Desa Sade)

Papu Balo' yang artinya sebutan untuk kerabat suami istri garis keturunan atas suku sasak. Yaitu kakek atau nenek hingga keturunan yang paling tua.
-
Short Story, Lombok
11/04/17
Sucie Sbastian

Terbaru

Hidup Adalah Pilihan, Dan Tanggung Jawab!

Artikel Lainnya