Perpisahan itu menyakitkan apalagi kalo berpisahnya sama orang-orang
yang kita sayangi. Rasanya dunia runtuh, bikin hari-hari jadi mendung
murung kelabu, mood jadi beda banget, dan segalanya jadi bete abis.
Berat banget rasanya melalui hari-hari habis perpisahan itu. Tapi,
kadang-kadang kita dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang gak ada pilihan
lain yaitu harus mensyukuri perpisahan. Jadi mau gak mau perpisahan itu terjadi dan menyakitkan!
Seringnya nih, karena perpisahan itu, sampai-sampai susah banget buat
melihat sisi positif dari sebuah perpisahan. Kalau kita udah gak bisa
liat sisi positif sebuah perpisahan, itu bakalan susah buat mensyukuri
perpisahan.
Kalo ada temen sekelas yang mau pindah sekolah ke luar kota gara-gara
relokasi kerja ortu, trus dia juga orangnya nyebelin jutek abis, buat
mensyukuri perpisahannya sih cetek habis, nggak ngefeklah! (Tapi ini
kalo perpisahan sama seseorang yang kita sayangi banget – entah keluarga teman
baik, sahabat, saudara atau pacar dian rekan kerja yang udah soulmate banget deh pokoknya! Gimana mau mensyukurinya coba?)
Kenyamanan kita merasa terusik waktu ada sesuatu datang menyentil
hari-hari kita sampe kejadiannya mengubah sesuatu jadi nggak kayak
biasanya. Ada sesuatu yang hilang dan itu adalah sesuatu yang sesuatu
banget.
Biasanya nih, pikiran kita tuh cepet banget bikin reaksi. Kalo reaksi
yang positif sih ya gak pa-pa tapi kalau reaksinya negatif terus malah
jadi kepikiran yang nggak-nggak terus jadi ngembang kesana-kemari yang
ujung-ujungnya bikin galau, nah itu yang gak OK banget!
Percaya deh kalau setiap kejadian itu termasuk juga perpisahan sama
orang-orang yang paling disayangi sekalipun, tetep ada nilai berkah dan
hikmatnya, meski saat itu nggak ketauan apa berkah dan hikmatnya.
Terus kapan biasanya kita baru ngeh nyadar ngeliat berkah dan hikmatnya itu ada ketika perpisahan?
Biasanya berkah dan hikmat itu muncul kalau waktu sudah agak berlalu,
kekacauan di pikiran udah agak reda, dan suasana hati udah agak baikan
dikit. Oh … jadi baru bisa ngeh itu karena udah lumayan makan waktu,
gitu? Hhhhmmm …
Well, ada sih pepatah yang sering bilang kalau “hanya waktulah yang
menyembuhkan luka” tapi inget looooh, kalo kita juga NGGAK BISA
menyerahkan kesembuhan luka hati kita itu sepenuhnya sama waktu. Gimana
kalo umur kita keburu game over sementara waktu belum mengijinkan untuk
sembuh dari luka? Nah looooh! He he he …
Perpisahan itu sebetulnya bisa kita syukuri kalau kita mau memperbaiki cara pandang kita, gimana cara kita melihat situasi bukan apa yang kita liat saat ini!
Kepergian seseorang itu memang sedikit mengubah kenyamanan tapi …. tau
nggak sih kalau kehidupan kita menjadi lebih tertantang waktu kenyamanan
kita berakhir. Kalau nyaman-nyaman terus, apa enaknya? Kalau kita nggak
nemu pergantian, berarti kita nggak nemu tantangan, kalau kita nggak nemu
tantangan berarti kita gak nemu suatu upaya buat maju!
Bedanya agenda hari-hari kita yang biasanya dilalui bareng sama dia
justru harusnya menantang kita buat nyari kompensasi agenda baru, dengan
begitu … siapa tau agenda baru malah jadi menumbuhkan sisi kreativitas
dan talenta yang baru atau malah membuat karakter diri jadi lebih dewasa
dan cara pandang pun jadi lebih luas karena harus melakukannya sendiri.
Putuskan secepatnya sebuah keputusan untuk tidak menyerahkan
kesembuhan sepenuhnya sama proses sang waktu. Putuskan segera untuk
memilih sikap mensyukuri perpisahan dan percaya bahwa segala sesuatu
terjadi demi kebaikan diri kita juga. Jangan cemen ah! | tag juga sahabatmu yang sulit move on ya! :'D
@suciesbastian.blogspot.com by google.com search. see you again ^^`
@suciesbastian.blogspot.com by google.com search. see you again ^^`

No comments:
Post a Comment
silahkan berkomentar :)