Saturday, 4 April 2020

Hidup Adalah Pilihan, Dan Tanggung Jawab!


Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada beberapa pilihan. Ada pilihan yang mudah, tetapi ada juga pilihan yang membingungkan, memaksa kita memikirkannya sampai berhari-hari.

Apa yang kita pilih sedikitnya menggambarkan seperti apa diri kita saat ini. Berhati-hatilah dalam memilih sesuatu, pilihlah apa-apa yang baik dan akan berdampak baik untuk kita.

Apa pun pilihan kita, bertanggung jawablah padanya. Jangan pernah menyia-nyiakan hal yang sejak awal telah kita pilih, atau kalau kau terpaksa, bersiaplah dianggap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab.

Untuk bisa tanggung jawab memang bukanlah hal mudah, di tengah jalan kita akan bertemu dengan kesulitan. Tapi di situlah perjuangan kita terlihat, keteguhan kita diuji untuk lanjut atau berhenti.

Tapi, tetaplah semangat dalam memperjuangkan pilihan kita. Itu hak kita, kita berhak untuk berhasil. Semoga kuat, jika kita butuh bahu untuk bersandar tapi tak menemukannya, bukankah masih ada sajadah dan Tuhan untuk kita bersujud dan berkeluh kesah?

Atas segala pilihan yang kita ambil, terima kasih sudah berjuang dengan pilihanmu. Hebat! Kamu sudah bertanggung jawab atas pilihanmu! #selfreminder #pejuangnafkah #pejuangkeluarga #nikmatmanalagiyangkaudustakan #ditengahpandemicorona #fatherfighter #dilemapedagangkecil #kitabisa #dilemadirumahaja #portraitperjuangansangayah

Tuesday, 19 February 2019

Portrait Kehidupan Antara Hitam Dan Putih Si Merah Jambu

Suatu ketika, diam dan merenung. Entah apa yang menjadi sebuah tujuan hidup yang sebenarnya, hitam pekat, dan putih jernih menjadi suatu pembatas para jiwa yang hidup. Kisah, sebuah uangkapan hati yang tidak dapat diungkapkan oleh kata, diam seribu bahasa namun berteriak sejuta kata dalam jiwa. Sedih, cukup dirasa ketika hati menjerit mengeluh akan sebuah takdir yang membuatnya gelisah setiap hari.
Gelisah, setiap kali melihat peliknya dunia. Gelisah, ketika ingat akan tindakan yang sudah terlewati dan terlanjur basah. Seperti angin yang menggoyahlan rerantingan dan menjatuhkkan embun saat petang menjelang gelap. Kacau, dan tidak pernah tau arah kemana harus mencari sebuah jawaban tentang jiwa yang kosong, sejenak berhenti lalu merundukan diri dan menangis.




Hitam dan putih si merah jambu.

Monday, 18 September 2017

Danau Biru Cigaru Wisata Alam Tangerang

Backpacker Asik Wisata Alam Tangerang
Oke gaes kali ini perjalanan trip gue adalah exsplore kota tercinta, yaitu kota dimana gue dilahirkan dan dibesarkan. Hehe Kota Tangerang!
Trip kali ini gue ditemenin satu orang kawan gue namanya Raditya Dika, *ehh -_-"
Asal punya usul awal perbincangan minggu weekend di Bulan September yang sama-sama belum ada rencana kemanapun, akhirnya gue dan Tia pun menyusun strategi perjalanan buat nyoba destinasi baru yang katanya lagi hits di Tangerang dan belum banyak orang tau nih gaees.
Kebetulan destinasi tujuan kami itu berbau alam, jadi langsunglah kami bergegas mencari informasi untuk dapat mendarat dengan indah disana. *eeaaa haha
Oke H-1 kami mempersiapkan cemilan yang akan kami bawa untuk di perjalanan, nah ini penting banget nih gaes buat menunjang kelancaran jalannya misi kami haha
Masalah transportasi umum yang akan kita gunakan adalah Commuter Line, berhubung menggunakan akses KRL lebih simple dan efisien tenaga dan juga murah meriah euy! :)
Gue dan Tia start mulai jam 7 pagi, mengantisipasi kesiangan atau kesorean jadi kami berdua sengaja on the way dari pagi. Dan itupun sudah di tambah ngaret setengah jam dari gue Wkwkwk (maaf ya brew)
Lalu kami berangkat dari Alam Sutera pakai grabcar buat menuju Stasiun Rawa Buntu, dengan harga Rp. 35.000,- mendarat dengan selamat di Stasiun, yeeaaaayy!
Lanjut kami beli tiket PP tujuan Stasiun Maja, dan turun di Stasiun Tigaraksa. Dan kita masih harus melewati beberapa stasiun lagi untuk bisa sampai di Stasiun Tigaraksa, dengan biaya tiket hanya Rp. 25.000,- itupun nanti dapat diuangkan kembali loh gaess Rp. 10.000,- (murmer sangat)


Oh iya, informasi juga nih buat yang perjalananannya di mulai dari Jakarta bisa ke stasiun tujuan Tanah Abang ya. Karena Commuter Line tujuan Maja itu arah dari Tanah Abang, dan jangan salah naik jurusan ;)



Nah, tepat jam 10 pagi kami sudah tiba di Stasiun Tigaraksa. Stasiunnya classic, berhubung gue baru pertama kali kesini jadi rada ndeso ceritanya Bhahaha


Dan didepan pintu keluar Stasiun sudah banyak bapak-bapak ojek yang rempong buat nawarin setiap pejalan kaki, salah satu lokasi yang disebutkan abang ojek yaitu termasuk Danau Biru. Eittsss, tapi gue sama tia enggak langsung mau ditawarin dong pastinya, gue pasang wajah jaim dan jutek pura-pura warga sekitar. Ini sih trik yang sering gue pakai kalau gue lagi jalan-jalan gaees biar dapet harga miring gitu, hahaha
Kita jalan kaki sedikit dari depan stasiun sampai kira-kira jauh dari kerumunan geng opang tadi, nah cari deh posisi PW di bawah pohon rindang kami berdua *eaaa Wkwkwk
Lanjut buat strategi cari transport yang budgetnya lumayan gak buat kantong kita bolong, sebetulnya bisa aja kita lanjut naik angkot umum. Tapi setelah gue tanya-tanya ke warga malah justru lebih jauh dan muter kalau naik angkot, yang ada waktu liburan lo habis dijalan. Kemudian gue ambil jalan pintas yang cukup simple dan gak buat kantong bocor pastinya
Akhirnya gue pakai jasa ojek, dan itu dikenakan tarif perorang Rp. 30.000,- untuk sekali jalan. Gue sama tia pun diskusi bentar untuk membicarakan masalah biaya dan lobi melobi, hehehe
Finally, fix kami bersua mau pakai jasa ojek si bapak tadi. Dan let's gooooo ..
Diperjalan gue pun banyak tanya sama si bapak ojek, eh kenalan dulu dong sebelumnya (kan tak kenal maka tak sayang) ahiiyyy 
Obrolan seputar kawasan wisata setempat sejarahnya Danau Biru, Tebing Godzila & Hutan Keramat. Brrrrrrrrrr 
Ternyata ada beberapa lokasi wisata didaerah cisoka, tepatnya di Tangerang. Dan asal mulanya pun unik berbeda sejarahnya, misal Danau Biru ini dan Tebing Koja alias Tebing Godzila.

Asal mula tempat ini adalah pertambangan pasir yang digali oleh para pekerja penduduk sekitaar, lama kelamaan lokasi itu terbentuk persis sebuah kubangan yang terisi dengan air, namun anehnya semakin lama air tersebut meluap dan menjadi unik berwarna biru tua dan biru toska.

Wargapun semakin terkejut dengan kondisi galian tersebut kemudian semakin ramai orang yang berdatangan ingin melihat kondisi galian, mulai dari warga setempat bahkan warga dari luar sekitar Tangerang.
Seiring berjalannya waktu akhirnya lokasi tersebut semakin ramai, walau belum banyak orang yang mengetahuinya akan tetapi sudah ada beberapa wisatawan yang hanya sekedar penasaran untuk melihat dan sengaja berwisata ke danau tersebut.
Danaunya masih terlihat sepi, karena lokasi ini masih tergolong baru di Tangerang untuk dijadikan tempat wisata keluarga maupun tempat rekreasi bersama. Disampaing itu juga akses transpirtasi yang memang masih sulit buat dijangkau oleh kendaraan umum, dan saran gw lebih mudah naik ojek yang tersedia di sekitar stasiun tigaraksa ataupun menggunakan mobil pribadi ya gaees.


Jarak dari lokasi Danau Biru ke Tebing cukup jauh, sekitar setengah jam perjalanan dari lokasi danau. Jadi lebih baik sewa ojek ya gaes buat bisa sampai ke Danau Biru dan Tebing Koja tersebut.
Berdasarkan kesepakatan antara gw dan abang ojek buat sewa jasanya itu Rp.60.000,- untuk bolak balik stasiun ke danau biru, dan buat menuju lokasi tebing gw tambah si abang Rp. 25.000,- karena lokasi lumayan jauh gaess jaraknya. Total buat jasa ojek kisaran Rp. 85.000,- lo bisa naik perahu rakit buat menikmati nuansa danau yang tenang sambil berfoto selfie ala-ala apapun yang lo mau gaess, cuma Rp.10.000,- dan sesampainya di danau atau di tebing lo bakal banyak nemuin warung-warung kopi kecil, dan disana sudah lumayan banyak pedagang makananan sejenis mie rebus juga cemilan. Bolehlah abang ojeknya di traktir ngopi sambil ngobrol menikmati suasana santai bernuansa alam di Tangerang, hehehe (leyehh leyeh brayy).
 
Untuk harga jangan khawatir gaes, disana masih standar kok. Mie rebus plus telur Rp. 14.000,- dan es teh atau minuman lainnya masih bisa dikondiaikan koook, shantahaiiii hahaha


Ohya, saat lo sampai di tebing koja bakal banyak anak kecil yang nawarin lo minuman segar, jadi siap-siap aja yang baperan harus tahan buat gak selalu kasihan ke mereka, karena wajah mereka memelas kebanyakan agar minumannya dibeli (hehe, maaf ya adek)
 
Nah, danau dan tebing pun puas sudah gw dan tia berkeliling dan foto selfie sampe batre kamipun lowbet pada akhirnya, lelah, bercucuran keringat naik turun tebing. Apalagi si tia yang badannya lumayan berisi tuh, remek dia bilang Wkwkwk
Tapi seru gaess, puas kebayar rasa lelah saat gw dan tia menikmati proses perjalanan trip kali ini. Trip singkat seharian dan jam 4 sorepun kami baru balik ke stasiun tigaraksa lagi.


Eh gak lupa juga, gw ada beberapa video yang gw rekam buat sedikit mengambil momen sejarah asal mulanya danau dan tebing koja terbentuk hingga sampai sekarang menjadi tempat wisata alam di Tangerang nih gaess.


Video bisa diliat disini, maaf ya kalau jelek hasil rekamannya. Yang penring infonya akurat dari warga setempat. Haseeeekk 
Oke gaess gw akan berbagi pengalaman lagi di trip selanjutnya ya, tapi belum tau destinasi selabjutnya bakal explore negri mana haha! See you next trip bye bye ..
Short story, 08 September 2017
IG : @suciesbastian @radityasusilo
Youtub : https://youtu.be/-Sfun8d_mr0

Thursday, 24 August 2017

Jatuh Cinta Diatas Umur 25 Tahun

"Karena Untuk Bersama, Tidak Hanya Soal Rasa
Tetapi Makna"


Jatuh cinta diumur 25 tahun ke atas itu udah nggak lagi segampang balikin telapak tangan, apalagi balikin mantan pada tempatnya 😂

kalau mau memilih juga nggak bisa asal tunjuk ataupun asal nyomot, nggak bisa nilai cuma karna dia baik atau tajir apalagi kalau nilai dia kaya bang Hamish Daud 😍

Pengen punya pasangan yang blaaaa bliiii bluuuu itu akan buyar sama satu orang yang bertahan karna adanya seseorang yang rela selalu ada disamping kamu sekarang. Nerimain nakalnya kamu, nerimain joroknya kamu, nerimain semua kekurangannya kamu dan diisi dengan kelebihannya si dia.

Dan yang penting adalah komunikasi, bukan hanya sekedar berkabar : "aku lagi disini, sama temen aku namanya idoy melehoy" 😅

Atau komunikasi yang lain,
Jauh dari itu saling sharing masalah hubungan kedua dan pribadi itu penting.
Suatu saat nanti kamu akan satu rumah selamanya dan menghabiskan waktu berdua hanya untuk cerita hal-hal yang nggak penting.

Dari hal yang nggak penting mendadak jadi penting banget kalau lagi nggak ada topik, iya nggak sih?" Yang jomblo mah belum bisa kasih jawaban 😑

Yang suka iseng nanya padahal tanpa dijawabpun pasti tau banget jawabannya, kayak "kamu sayang sama aku nggak?" atau sayang sama rumput tetangga sebelah?" 😂

Hahahaha.. Pertanyaan klasik, simple tapi jawaban dari pasangan masing-masing tuh bakal bikin greget sendiri kan?" 😣

Atau pertanyaan "aku cantik nggak?" Aku putihan nggak?" Aku langsingan nggak?" Jawaban "Enggak" mungkin cuma dijawab sama pasangan kalian doang Wkwkwkwk
soalnya kalian cuma nannya sama dia doang 😂

Tapi jawaban yang seperti itu biasanya lebih menyenangkan, kecuali kalian cara berhubungannya serius, giliran dijawab "Enggak" langsung ngambek, giliran di bilang kayak Raisa malah ngerasa di hina 😭

Ketika kamu jatuh cinta pertanyaan simple, seperti itu kamu pasti sudah tahu jawabannya. Kecuali jika kamu ditanya "kamu kapan nikahin aku?" 😑 jangan harap kamu dapet jawaban secepat kilat. dan jangan juga kamu tanya si dia pas posisi lagi capek, yang ada kalian berantem besar 🙊

tapi kalau kalian yakin bahwa, pernikahan adalah tujuan bersama, apalagi jika kedua keluarga kecil sudah perlahan menjadi satu keluarga besar akan luar biasa. Mungkin menurut saya pribadi, yang enak diajak ngbrol dan cerita itu jauh lebih nyaman dan menyenangkan.

Maka jatuh cinta lah kamu dengan pasangan yang menurutmu nyaman dan menghargaimu.
Bentuk cinta kalian se unik mungkin, senyaman mungkin, dan dengan gaya kalian masing-masing sampai ada kata-kata diluar sana yang mengatakan "duh pengen deh kaya mereka"! 😋

Selamat jatuh cinta, selamat berjuang demi si dia yang rela menerimamu dalam kondisi apapun, untuk berjuang bersama, maju bersama dan bahagia bersama, karena untuk bersama tidak hanya soal rasa tapi makna kebersamaan dan perjuangannya.

Oke! 😉

Monday, 19 June 2017

Indahnya Panorama Ramadhan Di Lombok Barat

Menikmati Seni Tenun Sambil Menunggu Magrib Tiba, Tradisi Suku Sasak Lombok, Tenun Songket
Kebudayaan Masyarakat Lombok 

(Ina, Pengrajin Tenun Songket Desa Sade Rambitan)

Kali ini Alhamdulillah dapat menikmati nuansa Ramadhan di Lombok, Desa Sade tepatnya. Yang dimana masyarakat setempat mayoritas menganut agama Islam, yaitu dengan sistem 'wetu telu' yang artinya dalam masyarakat Lombok yang awam itu sebagai akulturasi dari ajaran Islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme, dinamisme, dan kerpercayaan Hindu.

Penganut kepercayaan 'wetu telu' tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya yang dikenal dengan sebutan 'wetu lima' karena menjalankan kewajiban salat lima waktu. Dan yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat setempat. Nah, sedikit informasi mengenai kepercayaan yang dianut oleh masyarakat suku sasak. Disisi lain saya menggali informasi mengenai aktifitas sehari-hari para wanita yang berada disekitar lokasi, dan saya melihat disetiap sudut halaman rumah terdapat alat tenun beserta hasil kain tenunan yang berwarna-warni indahnya. Dan tidak salah itu adalah kerajinan seni suku sasak yang nantinya dapat dijadikan pakaian adat mereka, saya tidak sabar untuk mencoba mendekati salah satu penenun masyarakat sade yang sedang membuat kain songket.

Ina' baiq (ibu beranak tiga). Adalah salah satu pengrajin kain tenun songket khas suku sasak di Desa Sade, Rambitan Lombok Tengah.
Beliau menenun mulai dari berumur 13 tahun hingga saat ini, salah satu aktifitas beliau sambil menunggu sore hari.
(Belajar Tenun, Desa Sade Rambitan)

Oh iya, di Lombok Tengah terdapat sentra industri kain songket yang lumayan sudah terkenal di
Sukarara Village. Termasuk salah satu sentra penghasil songket terbesar di Lombok, info dari beliau, sentra disana sudah menjadi bagian dari komoditi hingga merambah pasaran luar negeri. Wah, keren ya.

Dan tenun songket itu sendiri merupakan kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan yaitu berupa hiasan-hiasan dari benang sintetis berwarna emas, perak, dan warna lainnya.
(Belajar Tenun, Desa Sade Rambitan)

Hiasan itu disisipkan di antara benang lusi, terkadang hiasan dapat berupa manik-manik, kerang, maupun uang logam. Untuk kain songket sensiri dipakai sebagai bagian dari pakaian tradisional suku sasak yang bernama baju lambung atau dikenal dengan baju wanita.
(Hasil Songket, Desa Sade)

Untuk penyelesaian tenun menjadi kain dapat memakan waktu yang berbeda-beda ujarnya, bisa jadi satu bulan bahkan lebih, tergantung tingkat kesulitan manik atau model songket yang akan di buat.
(Desa Sade, Suku Sasak Lombok)

Uniknya, menenun kain merupakan aktivitas sehari-hari perempuan suku sasak di lombok, apalagi saat Ramadhan ini dapat dijadikan alasan oleh masyakarat untuk ngabuburit, alias menunggu saat magrib tiba. Aktivitas itu juga menjadi syarat yang wajib dipenuhi untuk dapat menikah menurut tradisi budaya mereka loh.
(Salah Satu Pengrajin Tenun Songket Rumahan)

"Kalau perempuan di sini belum bisa menenun, mereka belum siap menikah karena harus bikin tiga sarung. Satu untuk diri sendiri, untuk suami dan mertua perempuan. Belajarnya sejak umur 10 tahun, mulai dari kain polos dulu" ujarnya.
(Papu Balo, Penjual Sovenir Di Desa Sade)

Ohiya, selain sibuk membuat tenun kain songket masyarakat suku sasak di Desa Sade ini pun mayoritas pembuat sovenir juga, dan itu dapat dijadikan alternatif untuk menarik wisatawan lokal maupun asing sebagai oleh-oleh cendramata yang dapat dibawa. Hehe

Salah satunya Papu Balo' ini. Papu Balo yang artinya sebutan untuk kerabat suami istri garis keturunan atas suku sasak. Yaitu kakek atau nenek hingga keturunan yang paling tua, beliau bisa dibilang Nenek paruh baya dengan seorang cucunya sedang menunggu para wisatawan membeli sovenirnya dipalataran rumah beliau.
-
Short Story, Lombok NTB
Sucie Sbastian
Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba blog #RamadhanDiLombok2017 yang diselenggarakan REPUBLIKA dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat

Monday, 22 May 2017

Wisata Budaya Lombok, Nusa Tenggara Barat (Travelling/Backpacker)

Tradisi Suku Sasak Lombok, Tenun Songket
Kebudayaan Masyarakat Lombok

(Ina, Pengrajin Tenun Songket Sukarara)

Ina' baiq (ibu beranak tiga). Adalah salah satu pengrajin kain tenun songket khas suku sasak di Lombok. Tepatnya di Industri Kerajinan Patuh Sukarara Village, Lombok Tengah.
Beliau menenun mulai dari berumur 13 tahun hingga saat ini, dan salah satu pengrajin tenun songket di Sukarara Village.
(Belajar Tenun, Sukarara Village)

Sukarara Village sendiri adalah sentra penghasil songket terbesar di Lombok. Info dari beliau, sentra disini sudah menjadi bagian dari komoditi hingga merambah pasaran luar negeri, dan tenun songket merupakan kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan yaitu berupa hiasan-hiasan dari benang sintetis berwarna emas, perak, dan warna lainnya.
(Belajar Tenun, Sukarara Village)


Hiasan itu disisipkan di antara benang lusi, terkadang hiasan dapat berupa manik-manik, kerang, maupun uang logam. Untuk kain songket sensiri dipakai sebagai bagian dari pakaian tradisional suku sasak yang bernama baju lambung atau dikenal dengan baju wanita.
(Hasil Songket, Desa Sade)

Untuk penyelesaian tenun menjadi kain dapat memakan waktu yang berbeda-beda ujarnya, bisa jadi satu bulan bahkan lebih, tergantung tingkat kesulitan manik atau model songket yang akan di buat.
(Desa Sade, Suku Sasak Lombok)

Uniknya, menenun kain merupakan aktivitas sehari-hari perempuan suku sasak di lombok. Aktivitas itu juga menjadi syarat yang wajib dipenuhi untuk dapat menikah.
(Salah Satu Pengrajin Tenun Songket Rumahan)

"Kalau perempuan di sini belum bisa menenun, mereka belum siap menikah karena harus bikin tiga sarung. Satu untuk diri sendiri, untuk suami dan mertua perempuan. Belajarnya sejak umur 10 tahun, mulai dari kain polos dulu" ujarnya.
(Papu Balo, Penjual Sovenir Di Desa Sade)

Papu Balo' yang artinya sebutan untuk kerabat suami istri garis keturunan atas suku sasak. Yaitu kakek atau nenek hingga keturunan yang paling tua.
-
Short Story, Lombok
11/04/17
Sucie Sbastian

Wednesday, 3 May 2017

Wisata Alam Dan Budaya Lombok, Indonesia Nusa Tenggara Barat

Legenda Pantai Seger Kuta Lombok Dan Ayunan Mandalika (Lombok, Nusa Tenggara Barat)

Kali ini cerita perjalanan saya terbagi menjadi beberapa artikel, berhubung banyak tempat yang saya kunjungi saat tiga hari itu, maka jika diceritakan dalam satu artikel blog ini terlalu panjang. Alhasil, untuk dibaca kurang menarik hehehe
Bercerita sedikit tentang perjalanan saya ke Pantai Seger yang terletak di Lombok, 2 kilometer sebelah timur Pantai Kuta Lombok. Jika diperkirakan jarak tempuh dari Bandara International Lombok di Praya, untuk menuju Pantai Seger sekitar setengah jam sampai satu jam. Untuk transportasi dapat memggunakan jasa travel ataupun mobil sewaan ya guys, mengingat jarang sekali transportasi umum di sekitar Bandara untuk menuju tempat wisata yang ada di Lombok tersebut.
Sedikit informasi dari yang saya dapat, untuk biaya sewa jasa travel kisaran harga Rp. 250.000,- s/d Rp. 350.000,- ribu rupiah untuk sekali anatar saja. Itupun tergantung nanti penawaran deal antara kita dan si jasa travel tersebut, untuk menemui para jasa travel tersebut sangat mudah. Biasanya mereka standby di pintu keluar Bandara, dan menyambut para pendatang untuk dapat memakai jasanya. Jadi tidak perlu khawatir ya guys, asal isi dompet tidak kosong saja. Hahaha
Untuk lebih baiknya sebelum hari keberamgkatan kita bisa googling terlebih dahulu nih guys buat sewa jasa travelnya, untuk biaya pastinya lebih terkondisikan dan tidak terjadi tembak harga jatuhnya, bisa lebih murah juga kan.
Dan saran saya, lebih baik jika ingin sewa jasa travel langsung saja cari paket wisatanya guys. Disamping lebih murah dan lebih banyak destinasi yang akan dikunjungi dibamding hanya sewa sekali jalan, saat itu saya paket wisata antar 5 destinasi Rp. 650.000,- (nego). Sudah termasuk tempat-tempat yang menjadi daya tarik wisatawan asing dan lokal.
Saat saya sampai Bandara menuju Sekotong menggunakan Bus Damri Rp. 30.000,- lalu transit menggunakan transport umum menuju lokasi penginapan, Rp. 80.000,- sejenis angkot umum carteran.
Oke lanjut menuju Pantai Seger, dan kebetulan saya saat itu sudah mempersiapkan segala sesuatunya dari sebulan sebelum keberangkatan. Untuk masalah penginapan dan transport sudah saya booking terlebih dahulu, tepatnya didaerah Sekotong. Jadi saat itu saya berangkat dari Sekotong menuju Pantai Seger, dengan jarak tempuh jasa travel sekitar 1 sampai 2 jam perjalanan.
 Sedangkan jika dari Kota mataram akan menempuh jarak tempuh sekitar 52 km dengan estimasi waktu kurang lebih 50 menit menuju Pantai Seger. Jika, posisi kita berada di kawasan wisata Pantai Senggigi akan lebih jauh lagi jarak tempuh untuk menuju Pantai Seger di Lombok Tengah, waktu yang diperlukan sekitar 3 sampai 4 jam perjalanan.
Pantai Seger adalah sebuah pantai yang masih alami dan unik karena selain berpasir putih dan memiliki panorama perbukitan khas pantai-pantai Lombok tengah bagian selatan, pantai ini juga menampilkan panorama batu karang yang menyembul dari tengah laut yang kerap kali disebut dengan Batu Tengkong (batu jamur) yang dapat di capai oleh pengunjung saat air laut surut.
Tentang Legenda Daerah dari Pantai Seger sendiri yang terdapat Ayunan Mandalika di pesisir Pantai, yang bercerita tentang putri cantik jelita bernama 'Mandalika' anak seorang Raja Tonjang Beri. Karena kecantikannya dan kebaikan perangainya inilah banyak pangeran yang bermaksud memperistri.
Namun anehnya, setiap pangeran yang melamar tidak ada satupun yang ia tolak. Para pangeran tersebut tentu tidak menerima jika sang putri diperistri oleh banyak pangeran. Maka, mereka pun bersepakat untuk mengadu keberuntungan lewat peperangan. Siapa yang memenangi perang tersebut dialah yang berhak menjadi suami Putri Mandalika. Kabar ini akhirnya sampai juga ke telinga sang putri, Ia pun berpikir selama sehari semalam untuk menemukan jalan keluarnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk merelakan jiwanya demi menghindari terjadinya peperangan yang akan memakan korban lebih banyak lagi. Setelah melakukan semedi, maka Putri Mandalika mengundang semua pangeran pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak. Bertempat di pantai Segar mereka berkumpul untuk mendengarkan siapa pangeran yang akhirnya akan menjadi suami Putri Mandalika.
Saat itulah putri berkata bahwa tidak ada satupun pangeran yang dia pilih karena dia telah ditakdirkan menjadi Nyale (cacing laut) yang dapat dinikmati oleh seluruh rakyat pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut. Sesaat setelah mengatakan hal itu, putri-pun menceburkan diri ke laut. Ia pun menghilang tanpa jejak. Tak lama kemudian, di permukaan laut bermunculan binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak.
Binatang yang berbentuk cacing laut itu memiliki warna yang indah, perpaduan antara warna hitam, hijau, kuning dan coklat. Binatang itulah yang kemudian disebut sebagai “Nyale” jelmaan Putri Mandalika.
Nah, disamping kita dapat berwisata alam kita juga dapat wisata Budaya guys. Lumayan untuk menambah wawasan kita terhadap tempat-tempat yang dijadikan ritual budayanya Suku Sasak di Lombok, sambil menyelam minum air namanya Hehehe
Dipantai Seger ini kita dapat menikmati keindahan samudra, lautan biru yang luas diatas bukit ketika sunset dan sunrise. Karena di Pantai ini banyak sekali terdapat perbukitan tandus bersama para kerbau perbukitan yang sedang mencari makan, dan di bukit itulah kita dapat mengambil foto dengan view hamparan air laut dan bukit-bukit hijau. Bersantai, menikmati jernihnya air laut dengan snorkling ataupun hanya sekedar bermain air di bibir pantai sambil menikmati Ayunan Mandalika, inilah view kehidupan yang saling melengkapi (hewan, manusia, gunung dan lautan).
Untuk cerita perjalanan Pantai Seger dan Legenda Ayunan Mandalika sampai disini dulu, destinasi selanjutnya di tema artikel yang berbeda setelah ini ya. Next time semoga saya bisa lanjut ke cerita perjalanan berikutnya di lokasi yang berbeda ya. Insya Allah, Aamiin 


Daily, Short Story
Lombok, 10 April 2017
By. Suciesbastian

Terbaru

Hidup Adalah Pilihan, Dan Tanggung Jawab!

Artikel Lainnya